Laman

Selasa, 20 September 2011

Pasang Lampu Belakang LED? Kenapa Tidak!


Salah satu perkembangan paling signifikan untuk penerangan kendaraan adalah penggunaan LED (Light Emiting Diode). Tidak hanya menjadi monopoli sedan maupun minibus, namun penggunaan LED telah merambah pada SUV dan jip.

LED mempunyai sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki oleh lampu konvensional. “Yang paling menonjol adalah pemakaian daya lisrik (watt) yang kecil. Sebuah rangkaian LED butuh daya jauh lebih kecil dari sebuah lampu konvensional,” tutur Wira Santosa dari Asia Jaya Motor di bilangan Pondok Gede, Bekasi.

“Selain itu LED juga lebih tahan lama dan mengeluarkan sinar 0,2 detik lebih cepat dibandingkan lampu konvensional. Sehingga respons, terutama pada lampu rem, menjadi lebih cepat,” sambungnya.

Menurut Wira, sebenarnya LED merupakan jenis diode yang dapat mengeluarkan sinar. Peranti ini akan mengeluarkan sinar saat dilewati arus. Besar kecil arus ini diatur oleh kapasitor. Karena itu, selain wattnya kecil, LED tidak memancarkan panas seperti halnya lampu pijar konvensional. “Ini yang membuatnya awet,” sambungnya.

Penggunaan LED bukanlah monopoli kendaraan-kendaraan moderen, yang tua pun sah-sah saja mengaplikasikan. “Tentunya butuh penyesuaian-penyesuaian,” ujar Wira.

Ada beberapa LED lansiran aftermarket, seperti untuk Jeep. Namun sejauh ini LED belum menjamah merek kebanyakan. “Tapi, kita bisa mengubah lampu konvensional menjadi lampu LED,” cerocos Wira.

Mengubah sebuah lampu konvensional menjadi LED tentunya butuh kiat-kiat khusus. Untuk bisa mengaplikasikan LED, butuh media berupa papan PCB, resistor dan tentunya unit LED itu sendiri. Pada beberapa jenis jip, penggantian ini mudah dilakukan, akan tetapi pada beberapa kendaraan lainnya perlu upaya lebih.

“Kemampuan berpijar sebuah lampu konvensional tentu tidak bisa digantikan dengan hanya memasang sebuah LED saja,” sambung Harsanto dari bengkel Bali Mega di kawasan Jakarta Selatan. Sinar sebuah LED lebih redup dibandingkan bohlam lampu biasa, namun cahayanya lebih tegas,” sambung pria yang banyak menangani Jeep ini.

“Butuh banyak LED untuk bisa menyamai terang sebuah bohlam lampu, sehingga tak mengherankan jika dua puluh hingga empat puluh LED sekaligus dapat dipergunakan untuk sebuah lampu belakang,” papar pria yang akrab disapa Santo ini. Namun secara matematis, hitungan daya yang dikeluarkan unit lampu yang sudah menggunakan LED lebih kecil jika dibandingkan dengan bohlam konvensional,” kekehnya.

Ragam LED
Dalam perkembangannya, kita mengenal aneka ragam LED yang beredar di pasaran. Dari sekian banyak yang tersedia, setidaknya terdapat empat macam yang paling dikenal dan paling banyak digunakan dalam dunia otomotif.

LED model silinder masih menjadi tipe paling populer. Jenis ini ditandai dengan dua kaki, dan tersedia dalam pilihan dari LED 3 mm, 5 mm dan 10 mm. Super Flux merupakan LED yang belakangan ini marak dipergunakan. Ciri utamanya terdapat pada kaki yang berjumlah empat batang.

Jenis Super Flux belakangan ini banyak digunakan kendaraan kelas premium seperti BMW ataupun Mercedes Benz, namun pada dasarnya semua LED tersebut memiliki cara kerja yang sama.

Berbeda dengan bohlam lampu, LED tidak memerlukan mika berwarna untuk menimbulkan efek warna. Salah satu keistimewaan LED ini adalah kemampuannya bersinar dengan warnanya sendiri, seperti merah, putih, kuning, biru dan lain sebagainya. Sehingga di beberapa kendaraan justru menggunakan mika bening sebagai penutupnya. (foto : macam led)

Tailgate & Third Brake Lamp
Sebenarnya semua fungsi lampu konvensional dapat digantikan oleh LED. Namun pada umumnya hanya pada tailgate (lampu belakang) dan third brake lamp (lampu rem tambahan) saja.

“Lampu sein sebenarnya bisa menggunakan LED, namun karena wattnya terlampau kecil, maka tidak bisa langsung diaplikasi. Jika dilakukan, maka beban flaser sein akan jauh berkurang, hasilnya sein akan berkedip terlalu cepat,” terang Wira. “Untuk itu butuh alat tambahan berupa rangkaian elektronik khusus,” sambungnya.

Hal ini yang membuat produsen kendaraan hanya mengaplikasikan pada produk-produk premium. “Alasannya klasik, biaya tambahan,” selorohnya.


Selain lebih cepat bersinar dibandingkan dengan bohlam lampu, LED memiliki kelebihan lain dengan pendar yang lebih kuat dan tajam. “Kita bisa lihat pada lampu emergency pada kendaraan F1. Walau hujan sekalipun, cahaya LED ini masih bisa terpantau,” imbuh Santo. “Hal inilah yang dikatakan bahwa LED sangat cocok dipergunakan sebagai lampu belakang dan lampu rem tambahan,” tegasnya. (tailgate)

Modifikasi
Mengubah sebuah lampu konvensional menjadi LED, berarti mengubah mekanisme lampu tersebut secara total, dengan asumsi bahwa lampu lama dipergunakan kembali. Batok lampu dan mikanya yang menjadi bagian yang fokus untuk digunakan.

Pada dasarnya lampu LED tidak memerlukan banyak ruang untuk meletakkan jajaran unitnya. Papan PCB-lah yang menjadi wahana ditempelkannya LED berikut dengan resistornya. Ukuran papan bisa disesuaikan dengan ruang yang tersedia pada ruang lampu. “Papan PCB kita desain menyesuaikan kebutuhan dan ruang yang ada. Sedangkan untuk LED kita bisa atur jumlah dan susunannya, tentunya disesuaikan dengan ruang dan kondisi batok lampunya,” cerocos Wira.

“Sebenarnya tidak ada mika khusus untuk lampu LED. Mika bermotif bawaan asli kendaraan pun bisa digunakan. Mika lampu bermotif tidak banyak mempengaruhi kualitas cahaya,” terang Santo. “Namun tidak ada salahnya juga jika kita memodifikasi dan mengubahnya menjadi mika bening tak bermotif layaknya lampu mobil masa kini,” sambung pria berperawakan mungil ini.

“Model mika bening akan lebih sempurna lagi jika ditambahi dengan reflektor khusus yang berfungsi untuk semakin menajamkan cahaya yang dihasilkan LED. Penggunaan reflektor ini sebaiknya dihindari jika masih mengandalkan mika lampu bermotif. Sia-sia saja, cahaya yang dihasilkan tidak akan maksimal dan tentunya hanya akan membuang biaya percuma saja,” tutup Wira.