Laman

Recent Posts

Kamis, 26 Mei 2011

Aplikasikan Elektro-Mechanical 4 Wheel Steering


Jip - Untuk mengarahkan laju kendaraan, setir memegang peranan utama. Sistem kemudi ini menggerakkan roda depan ke kanan-kiri, sesuai gerakan setir yang diputar oleh pengemudi. Namun dalam keadaan tertentu, kondisi ini ternyata dirasa kurang memadai. Radius putar yang terlalu lebar akan membuat manuver terbatas. Keluar masuk tikungan patah pun pasti akan menyulitkan. Apalagi jika harus parkir kendaraan di tempat sempit.

Tak heran pada tahun 1987-an pabrikan Honda mengeluarkan sedan tipe Prelude yang dilengkapi dengan four wheel steering, alias kemudi 4 roda, yang roda belakangnya ikut belok. Kemudian General Motor pun menerapkan Delphi’s Quadrasteer pada Sierra Denali bikinannya. Beberapa pabrikan mobil lainnya pun melengkapi produknya dengan four wheel steering.

Untuk kendaraan dengan ukuran besar seperti truk, double cabin, pikap dan sebagainya, penambahan four wheel steering jelas memudahkan driver. Tentu, pada sistem seperti ini sensitifitas kemudi roda belakang tak seresponsif depan. Demikian pula dengan sudut beloknya, tak selebar depan.

Buat penyuka off-road kompetisi, pemakaian four wheel steering jelas akan besar manfaatnya. Tambahan kemudi pada roda belakang pasti bikin manuver lebih lincah. “Kalau di rockcrawling, manfaatnya terlihat pada tikungan patah. Bisa sangat membantu membelokkan jip dan meminimalkan nilai hukuman,” komentar Ian Suwarko dari bengkel 4x4 Specialist Jakarta.

Di Malaysia, beberapa off-roader sudah memakainya pada kompetisi off-road adventure. “Di Johor Bahru sudah ada yang memasang four wheel steering,” bilang Harry Sanusi, offroader senior yang beberapa waktu silam menyambangi Johor Bahru Challenge. Menurut pengamatan Harry, jip semi tubular milik offroader Malaysia dengan mesin Mitsubishi Evo plus four wheel steering sangat gesit melahap tikungan.

Biasanya pemakaian four wheel steering bersifat pasif. Artinya pengatur roda belakang baru berfungsi ketika diaktifkan. Cara pengaktifannya dengan menekan switch on-off. Sementara penggerak setir belakang sendiri bisa memakai hidraulis atau elektrik. Nah, pada tulisan ini akan dibahas 4 wheel steer yang memakai mekanikal elektrik.

“Ini bukan produk jadi after market, tetapi hasil modifikasi sendiri,” jujur Ian Suwarko. Menurut pria yang cukup kenyang bermain rock crawling, elektrik four wheel steering racikannya memadukan motor winch dengan komponen alat berat.

Syarat untuk membuat four wheel steering, tentu saja butuh sepasang gardan depan. “Gardan belakang biasa bersifat solid, tak memiliki steering knuckle yang bisa membelokkan roda. Makanya mesti diganti gardan depan,” imbuh Ian.

Biasanya penggantian gardan ini tidaklah sesimpel yang dibayangkan. Soalnya mesti menyesuaikan as kopel yang terhubung dengan transfercase. Kendala inilah yang kerap dialami ketika akan memodifikasi jip off-road. “Posisi bonggol gardan sering tak bisa akur dengan transfercase. Kalau pakai gardan lain, final gir juga kerap tidak sama,” lanjut pria yang sedang menyiapkan buggy tubular single seater dengan 4 wheel steering elektrik ini.

Cara kerja mechanical elektrik 4 wheel steering cukup sederhana. Motor winch akan menggerakkan racikan gir dari komponen alat berat yang sudah terhubung dengan batang long tie rod. Agar motor winch tidak berputar terus ketika putaran roda sudah mentok, maka dipasang switch on-off tambahan.

Ketika putaran roda sudah menyentuh steering damper, maka otomatis switch motor winch akan langsung ke posisi off. Sehingga motor winch tak berputar terus, yang bisa bikin korslet dan terbakar. “Satu lagi yang perlu diingat, harus membuat mekanisme kunci pengaman apabila 4 wheel steering di posisi off,” wanti Ian. Ini sebagai antisipasi jika pengatur gerak roda belakang mengalami kerusakan. Tinggal mengaktifkan pengunci gardan belakang, jadi tak bisa bergerak ke kiri-kanan sendiri.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba?

Paket Pelek Suv Blink-Blink Gres!


JAKARTA -
Gaya modifikasi untuk SUV identik dengan gaya blink-blink khas rapper Amerika. Ciri utamanya bisa dimulai dari ubahan diameter roda lebih dari 20 inci. Melihat perkembangannya di Tanah Air, gerai pelek dan ban Autostyle baru saja mendatangkan model-model pelek yang gres.

“Bisa buat Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport,” bilang Amin Sutiono, pemilik gerai. Pilihannya didominasi buatan Amerika Serikat seperti merek Ballistic, KMC, Fusion, dan Giovanna. Sedangkan label Thailand diwakili Lenso.

“Langsung plek, enggak perlu pakai adaptor lagi,” yakin pembesut VW Golf GTI ini. Tersedia pilihan diameter 20 inci, 22 inci dan 24 inci dengan sodoran finishing yang beragam. Untuk diameter 20 inci dengan ukuran ban 285/50/R20 ditawarkan Rp 18 juta.

Sedangkan diameter 22 inci dengan ban ukuran 285/40/R22 dihargai Rp 21 juta. Dan diameter 24 inci yang dibalut ban ukuran 305/35/R24 bisa ditebus Rp 35 juta. “Sudah satu paket pakai ban merek lokal,” sahut Amin.

Jika penasaran, langsung saja datangi Autostyle di JL. Griya Utama Raya Blok A No.28, Sunter Griya Kemayoran, Jakut. Nomer telepon yang bisa dihubu­ngi 021-6517180 atau 021-65830656.

Komponen Jimny Limbahan, Harga Pintu Rp 1,5 Juta


Bandung -
Suzuki Jimny memang cukup terkenal di kalangan pencinta jip. Sebenarnya spare part Jimny ini banyak ditunjang komponen alternatif limbahan, yang salah satunya adalah 77 Jip Cell di Bandung.

“Kita memang khusus menyediakan komponen limbahan Jimny, mulai dari body part, gardan, kopel, hingga disc brake dan juga pernak-pernik lainnya,” ujar Yudi, pemilik 77 Cell.

Untuk harga, contohnya body part, pintu baru dibanderol Rp 1,5 juta per buah. Sedangkan kalau bekas mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta sepasang. Sedangkan pintu belakang bekas harganya Rp 750 ribu.

Lalu untuk gardan dengan final gear 8:43 sepasang dihargai Rp 2,5 juta. “Freelock Aisin orisinal saya jual Rp 800 ribuan, kalau disc brake asli Jimny Rp 1,250 juta sepasang,” jelasnya. Kemudian alternator di atas 90 Ampere dijual Rp 400 ribu dan ekstra fan Rp 250 ribuan.

Supaya nggak penasaran, datang saja ke 77 Jip Cell, Jl. Cingised - Guruminda No. 77, Ban­dung, atau ke Jl. Sedangserang No. 21, Bandung. Telp. 0812-14066066 (Yudi), 087821488510 (Dian), 08179252222 (Ivan)

Jeep Berwheelbase 103 Inci


AMC Jeep CJ-8 merupakan sebuah impian bagi Yoel Sapate. Sejak belia, Jeep berwheelbase 103 inci ini benar-benar telah memikat hati pria asal Sulawesi Utara ini. “Saya menyukai produk Jeep, namun entah mengapa CJ-8 selalu selalu muncul sebagai idola,mungkin karena bentuknya yang berupa pikap” tutur pria yang menggeluti dunia truk mixer ini.

Tak kurang dari lima CJ-8 pernah tercatat sebagai miliknya, namun seiring dengan berjalannya waktu hanya sebuah CJ-8 dengan kondisi jempolan lansiran tahun 1984 yang masih setia mendampinginnya.

Berbeda dengan beberapa CJ-8 yang pernah ia punyai, kali ini pria yang akrab disapa Kerry ini lebih menonjolkan unsur restorasi pada kendaraannya. “Sebisa mungkin kita dekatkan dengan kondisi orisinal jip ini. Salah satu kiat dengan menyamakan warna orisianal yang dilaburkan oleh pabriknya,” tutur ayah tiga anak ini.

Dari sekian pilihan warna yang ada, warna biru lah yang kemudian ia pilih. “Warna inilah yang memiliki kesan yang sangat melekat dengan CJ-8 khususnya di Indonesia. Konon dulu pernah menjadi ciri dari salah satu instansi pemerintah dan hal tersebut sangat membekas dalam memori saya,” kenang Kerry.

Lewat sebuah pintu laci CJ-7 berwarna serupa milik seorang temannya, semuanya terkuak. Warna biru yang ia inginkan ternyata memiliki julukan dolphin blue yang tak lain merupakan salah satu cat orisinal dari jajaran CJ-7 dan CJ-8. Dari situlah nama Si lumba-lumba muncul untuk menyebut jip ini.

Entah pengaruh nama yang diberikan atau suatu kebetulan. Namun sepertinya nama lumba-lumba memang cocok disematkan pada jip lansiran tahun 1986 tersebut. Selama masa restorasinya, jip ini loncat kesana kemari. Setidaknya empat bengkel pernah disambangi namun berujung dengan terbengkalainya proyek restorasi tersebut. “Cape juga…akhirnya saya berinisiatif untuk mengerjakan sendiri proses restorasi tersebut di rumah dan ternyata bisa diselesaikan dengan baik. Dari awal hingga selesai, tidak terasa 4,5 tahun dihabiskan untuk menjadikannya seperti sekarang,” papar Kerry. “Mungkin karena namanya lumba-lumba jadinya CJ-8 ini demen lompat-lompat,” kekehnya.
Mesin
Blok mesin AMC 258 bawaan asli jip masih dipertahankan, hanya saja untuk meningkatkan performanya piston dan silinder head diganti milik Cherokee. Uniknya silinder head milik Cherokee Country ini jatuh sebagai pilihan karena bentuknya yang unik dan klasik.

Gardan
Gardan Dana 30 terpasang di bagian depan, sedangkan AMC 20 disematkan di bagian belakang. Kedua gardan asli bawaan kendaraan ini telah direbuild dan tetap dipercaya sebagai kaki-kaki jip yang tergolong langka ini.

Girboks
Sepasang tongkat dengan shift knob custom nongol dari lantai. Masing-masing tongkat terkoneksi dengan transmisi 4 speed dan tranfercase asli bawaan CJ-8 ini. Duet transmisi dan tranfercase ini dinilai terbukti tangguh dan jarang rewel.

Interior
Jok asli masih bertahan pada posisinya, sedangkan sebuah stir langka milik salah satu limited edition CJ-7 dipasangkan. Sepertinya Kerry tergolong orang yang doyan bereksperiman dengan menambahkan beberapa tombol custom dari bahan alumunium yang berbaur dengan peranti orisinal jip ini.

Lampu tambahan
Sepasang lampu tambahan SEV Marchall yang banyak dicari para pencinta Jeep klasik nampak bertengger di atas bumper berlapis krom. Kehadirannya bukan saja membuat penampilan jip ini kian gagah, namun disiapkan juga untuk menghadapi kondisi jalanan yang pekat akan kabut ataupun deraan air hujan.

Spion
Kerry nampaknya tidak tertarik mengganti spion orisinil bawaan asli jip ini dengan milik YJ atau TJ Wrangler. Menurutnya spion asli CJ unik karena memiliki tangkai yang berbeda dan tentunya memiliki bentuk klasik.

Fuel cap
Tutup bahan bakar menggunakan produk aftermarket yang merupakan buah tangan dari salah satu rekannya saat berpergian di salah satu negara. Alat ini dioperasikan dengan memencet tombol kombinasi yang ada pada tutup tersebut. Hmm..unik.

Towing bar
Sebuah Towing bar nampak menempel mesra pada bagian belakang jip ini. Peranti ini merupakan produk genuine aksesoris untuk kendaraa produk Chrysler Group.

Ban
Tampilan klasik sebuah Jeep tentu tidak bisa lepas dari sentuhan pelek L-Star Canada yang merupakan legenda yang mewarnai peradaban Jeep pada dekade 80-an.

Nyaman Berkendara, Pasang Spion Tengah di JIP Anda!


JIP - Selain lebih menarik, dalam kondisi tertentu, kaca spion tengah juga lebih aman. “Sekaligus menampilkan fitur pengatur sudut cermin sehingga lebih nyaman saat berkendara di malam hari. Satu jenis fitur yang tidak terdapat pada standar bawaan Taft, ” imbuhnya. tutur Migrawan Cahyo Nugroho yang memasang kaca spion CJ-7 di Taft-nya.

Selain dari 4x4, tak haram menggunakan comotan kendaraan lain seperti Honda Civic Genio. “Yang penting adalah cara pemasangannya, ada beberapa trik supaya spion ini bisa terpasang dengan baik dan benar,” tutup pengasuh bengkel cat di bilangan Bekasi ini.

Kita lihat apa-apa saja yang perlu dilakukan.

Langkah
1. Menentukan letak kaca spion. Ini langkah yang menentukan visibilitas pemantauan area belakang kendaraan. Sebaiknya dilakukan beberapa kali ujicoba penempatan untuk mendapat posisi paling ideal dengan visibilitas maksimal.(mm)

2. Setelah mendapatkan posisi yang pas, maka bersihkanlah permukaan kaca dari kotoran debu ataupun minyak. Alkohol bisa dijadikan bahan pembersih yang cukup efektif. Ini perlu dilakukan untuk memperkuat daya lekat lem yang nantinya bakal menjadi tulang punggung kekuatan menempelnya kaca spion. (mm 4)

3. Pastikan besi braket kaca spion ini benar-benar bersih, dan luluri dengan racikan lem besi secukupnya saja. (mm 3)

4. Tempelkan braket tersebut pada bagian kaca yang sudah diampelas tadi. Tahan dengan menggunakan selotip hingga benar-benar kering. Untuk amannya biarkan hingga 24 jam untuk mendapatkan kekuatan rekat lem yang maksimal. (mm1)

5. Pasang peranti kaca spion pada braket yang telah dipersiapkan tadi dan kaca spion pun sudah siap digunakan. (mm2)

Lem Khusus
Sebenarnya, pemasangan jenis kaca spion ini menggunakan lem khusus untuk menempelkan braket pada kaca. “Selain lem ini tergolong sulit didapat, maka sebagai alternatif bisa digunakan lem plastic steel epoxy hardener,” tutur Unggul Prakoso dari Restu Motor di bilangan Pondok Gede Bekasi. “Kebersihan permukaan kaca yang akan ditempeli sangat menentukan daya rekat menempelnya braket kaca spion tersebut,” wantinya. (lem)

Fitur
Sejauh ini kaca tempel pada kendaraan yang beredar di Indonesia selalu dilengkapi fitur pengaturan sudut cermin. Fitur ini berguna pada malam hari, ketika pantulan sinar lampu dari kendaraan di belakang menganggu mata. (fitur)

Alat bahan (alat dan bahan)
1. Spion tengah tempel
2. Lem Plastic Steel Epoxy Hardener
3. Kunci L berbagai ukuran
4. Selotip atau lakban
5. Alkohol

Thanks to :
Restu Motor (Amphibia Motorsport)
Jl. Jatirahayu Raya No 14 Pondok Gede Jakarta Timur
T : (021) 846.1574

Trik Gulung Kabel, Biar Fleksibel Kayak Kabel Telepon


JIP - Jika kita cermati sebuah pesawat telepon konvensional, hal yang paling menonjol ada pada kabelnya. Wujud kabel yang bergulung-gulung laksana bakmi keriting ini sangat fleksibel, dan memungkinkan kita berbicara dengan leluasa tanpa harus memindah-mindahkan rumah teleponnya.

Sifat kabel seperti ini pun kerap berguna bagi jip. Ada bagian-bagian yang butuh kabel fleksibel, bisa merenggang leluasa, namun kembali ke dalam wujud awalnya sehingga tidak memakan tempat. “Contohnya kabel-kabel yang menyambung fungsi kelistrikan pada pintu,” tutur Anandy Satrio Wibowo Putro, yang doyan utak-atik kabel Jimny kesayangannya.

“Jika kita menggunakan kabel telepon, selain harganya mahal juga kabelnya terlalu kecil untuk menghantar listrik, sehingga tidak direkomendasikan,” tutur warga Depok, Jawa Barat ini. “Namun jangan khawatir, sebenarnya kita bisa kok membuat sendiri kabel dengan bentuk seperti itu. Caranya simpel,” cerocos pria yang akrab disapa Nandy ini.

Bagaimana caranya?

Yuk kita kupas bersama.

Langkah
1. Persiapkan kabel yang akan dikeritingkan beserta dengan pengerolnya yang bisa diambil dari spidol bekas. Tentukan diameternya sesuai selera atau kebutuhan. Gulung kabel pada roll tersebut.

2. Setelah gulungan terpasang seluruhnya, eratkan hingga semua gulungan kabel mengikat erat pada batang roll. Agar gulungan tidak longgar atau malah buyar, maka tempelkan selotip kertas untuk menahan kabel supaya tetap tergulung pada tiap ujungnya.

3. Masukkan kabel dalam air panas dengan suhu sekitar 90° Celcius selama kurang lebih 1 hingga 2 menit. Perlu diingat, air yanag dipergunakan bukanlah air mendidih. Proses ini membuat plastik pembungkus kabel mengembang atau memuai sehingga plastik pembungkusnya lebih lunak dibandingakan sebelum dimasukkan ke dalam air panas.

4. Setelah itu segera masukkan dalam air dingin selama 1 hingga 2 menit. Air yang dipergunakan bisa berupa air es, pastikan kondisinya benar-benar cukup dingin. Proses ini bermaksud untuk mengunci bentuk pembungkus kabel yang semula memuai secara tetap.

Alat bahan
1. Kabel
2. Selotip
3. Roller
4. Air panas
5. Air dingin

Rabu, 25 Mei 2011

Pasang Lampu Belakang LED? Kenapa Tidak!


JIP - Salah satu perkembangan paling signifikan untuk penerangan kendaraan adalah penggunaan LED (Light Emiting Diode). Tidak hanya menjadi monopoli sedan maupun minibus, namun penggunaan LED telah merambah pada SUV dan jip.

LED mempunyai sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki oleh lampu konvensional. “Yang paling menonjol adalah pemakaian daya lisrik (watt) yang kecil. Sebuah rangkaian LED butuh daya jauh lebih kecil dari sebuah lampu konvensional,” tutur Wira Santosa dari Asia Jaya Motor di bilangan Pondok Gede, Bekasi.

“Selain itu LED juga lebih tahan lama dan mengeluarkan sinar 0,2 detik lebih cepat dibandingkan lampu konvensional. Sehingga respons, terutama pada lampu rem, menjadi lebih cepat,” sambungnya.

Menurut Wira, sebenarnya LED merupakan jenis diode yang dapat mengeluarkan sinar. Peranti ini akan mengeluarkan sinar saat dilewati arus. Besar kecil arus ini diatur oleh kapasitor. Karena itu, selain wattnya kecil, LED tidak memancarkan panas seperti halnya lampu pijar konvensional. “Ini yang membuatnya awet,” sambungnya.

Penggunaan LED bukanlah monopoli kendaraan-kendaraan moderen, yang tua pun sah-sah saja mengaplikasikan. “Tentunya butuh penyesuaian-penyesuaian,” ujar Wira.

Ada beberapa LED lansiran aftermarket, seperti untuk Jeep. Namun sejauh ini LED belum menjamah merek kebanyakan. “Tapi, kita bisa mengubah lampu konvensional menjadi lampu LED,” cerocos Wira.

Mengubah sebuah lampu konvensional menjadi LED tentunya butuh kiat-kiat khusus. Untuk bisa mengaplikasikan LED, butuh media berupa papan PCB, resistor dan tentunya unit LED itu sendiri. Pada beberapa jenis jip, penggantian ini mudah dilakukan, akan tetapi pada beberapa kendaraan lainnya perlu upaya lebih.

“Kemampuan berpijar sebuah lampu konvensional tentu tidak bisa digantikan dengan hanya memasang sebuah LED saja,” sambung Harsanto dari bengkel Bali Mega di kawasan Jakarta Selatan. Sinar sebuah LED lebih redup dibandingkan bohlam lampu biasa, namun cahayanya lebih tegas,” sambung pria yang banyak menangani Jeep ini.

“Butuh banyak LED untuk bisa menyamai terang sebuah bohlam lampu, sehingga tak mengherankan jika dua puluh hingga empat puluh LED sekaligus dapat dipergunakan untuk sebuah lampu belakang,” papar pria yang akrab disapa Santo ini. Namun secara matematis, hitungan daya yang dikeluarkan unit lampu yang sudah menggunakan LED lebih kecil jika dibandingkan dengan bohlam konvensional,” kekehnya.

Ragam LED
Dalam perkembangannya, kita mengenal aneka ragam LED yang beredar di pasaran. Dari sekian banyak yang tersedia, setidaknya terdapat empat macam yang paling dikenal dan paling banyak digunakan dalam dunia otomotif.

LED model silinder masih menjadi tipe paling populer. Jenis ini ditandai dengan dua kaki, dan tersedia dalam pilihan dari LED 3 mm, 5 mm dan 10 mm. Super Flux merupakan LED yang belakangan ini marak dipergunakan. Ciri utamanya terdapat pada kaki yang berjumlah empat batang.

Jenis Super Flux belakangan ini banyak digunakan kendaraan kelas premium seperti BMW ataupun Mercedes Benz, namun pada dasarnya semua LED tersebut memiliki cara kerja yang sama.

Berbeda dengan bohlam lampu, LED tidak memerlukan mika berwarna untuk menimbulkan efek warna. Salah satu keistimewaan LED ini adalah kemampuannya bersinar dengan warnanya sendiri, seperti merah, putih, kuning, biru dan lain sebagainya. Sehingga di beberapa kendaraan justru menggunakan mika bening sebagai penutupnya. (foto : macam led)

Tailgate & Third Brake Lamp
Sebenarnya semua fungsi lampu konvensional dapat digantikan oleh LED. Namun pada umumnya hanya pada tailgate (lampu belakang) dan third brake lamp (lampu rem tambahan) saja.

“Lampu sein sebenarnya bisa menggunakan LED, namun karena wattnya terlampau kecil, maka tidak bisa langsung diaplikasi. Jika dilakukan, maka beban flaser sein akan jauh berkurang, hasilnya sein akan berkedip terlalu cepat,” terang Wira. “Untuk itu butuh alat tambahan berupa rangkaian elektronik khusus,” sambungnya.

Hal ini yang membuat produsen kendaraan hanya mengaplikasikan pada produk-produk premium. “Alasannya klasik, biaya tambahan,” selorohnya.


Selain lebih cepat bersinar dibandingkan dengan bohlam lampu, LED memiliki kelebihan lain dengan pendar yang lebih kuat dan tajam. “Kita bisa lihat pada lampu emergency pada kendaraan F1. Walau hujan sekalipun, cahaya LED ini masih bisa terpantau,” imbuh Santo. “Hal inilah yang dikatakan bahwa LED sangat cocok dipergunakan sebagai lampu belakang dan lampu rem tambahan,” tegasnya. (tailgate)

Modifikasi
Mengubah sebuah lampu konvensional menjadi LED, berarti mengubah mekanisme lampu tersebut secara total, dengan asumsi bahwa lampu lama dipergunakan kembali. Batok lampu dan mikanya yang menjadi bagian yang fokus untuk digunakan.

Pada dasarnya lampu LED tidak memerlukan banyak ruang untuk meletakkan jajaran unitnya. Papan PCB-lah yang menjadi wahana ditempelkannya LED berikut dengan resistornya. Ukuran papan bisa disesuaikan dengan ruang yang tersedia pada ruang lampu. “Papan PCB kita desain menyesuaikan kebutuhan dan ruang yang ada. Sedangkan untuk LED kita bisa atur jumlah dan susunannya, tentunya disesuaikan dengan ruang dan kondisi batok lampunya,” cerocos Wira.

“Sebenarnya tidak ada mika khusus untuk lampu LED. Mika bermotif bawaan asli kendaraan pun bisa digunakan. Mika lampu bermotif tidak banyak mempengaruhi kualitas cahaya,” terang Santo. “Namun tidak ada salahnya juga jika kita memodifikasi dan mengubahnya menjadi mika bening tak bermotif layaknya lampu mobil masa kini,” sambung pria berperawakan mungil ini.

“Model mika bening akan lebih sempurna lagi jika ditambahi dengan reflektor khusus yang berfungsi untuk semakin menajamkan cahaya yang dihasilkan LED. Penggunaan reflektor ini sebaiknya dihindari jika masih mengandalkan mika lampu bermotif. Sia-sia saja, cahaya yang dihasilkan tidak akan maksimal dan tentunya hanya akan membuang biaya percuma saja,” tutup Wira. (jip.otomotifnet.com)

Thanks to

Asia Jaya Motor
Jl. Pondok Gede Raya 24
Bekasi
Telp: (021) 848.7623

Bali Mega
Jl. Margasatwa Raya No. 51 Pondok Labu,
Jakarta Selatan
Telp. (021) 323.92525

Utilitas Traction aid II Locker

JIP - Jika pada edisi lalu kita sudah menguak Limited Slip Differential (LSD), tentunya tidak adil bila kita melupakan locker. Bila LSD menyesuaikan besar tenaga yang tersalur ke setiap roda (kiri-kanan) dengan beban, maka locker langsung mematok pembagian tenaga tersebut.

Jadi tenaga yang tersalur ke sisi kiri dan kanan selalu sama. Dalam kondisi tertentu, traksi ‘penuh’ seperti inilah yang kerap diperlukan. “Semisal merayapi medan bebatuan atau permukaan keras lainnya, respon yang diberikan LSD tidak spontan. Butuh entakan untuk membuat LSD mengunci,” lanjut Daniel Edwar dari MMC.

Positive locker
Jika butuh traksi spontan, maka differential locker pun hadir sebagai solusi. Sesuai namanya, locker berarti pengunci. “Dalam hal ini, diferensial benar-benar dikunci dan berputar sebagai satu poros yang sama, dengan kecepatan yang sama pula,” tutur Tri Handoko dari CBX Motorsport di bilangan Pondok Gede Bekasi.

Karakter itulah yang membuat banyak pengguna jip menganggap locker lebih nyata memberikan kontribusi traksi dibandingkan LSD. Tak mengherankan jika locker banyak digemari off-roader di Indonesia, terutama yang sering terjun dalam event kompetisi.

“Locker lebih spontan untuk memutar kedua belah roda. Saya lebih memiliki feeling untuk menggunakan locker dibandingkan LSD,” tutur Joko Suryono yang lebih dikenal sebagai Joko Jangkrik.

Menurut Joko, karena traksi dan putaran roda yang pasti, Ia pun lebih mudah menebak traksi yang bakal didapat dibanding menggunakan LSD yang pembagian traksinya tergantung pada medan dan hentakan pada as roda.

“Tapi, saya tidak menyarankan locker pada kendaraan harian. Banyak faktor negatif yang ditimbulkannya. Salah satunya ban lebih cepat habis,” kekehnya sembari menutup perbincangan.

Negative Locker
Ragam Locker
Secara umum locker dapat dibagi menjadi menjadi dua macam kategori yang disebut dengan positive locker dan negative locker. Kedua kategori ini dibedakan dari jenis aktivasinya.

1. Positive locker
Locker ini sifatnya permanen, dimana proses penguncian pada rodanya tidak bisa dilepas. Sekali dipasang, maka selamanya kerja efek differential tidak pernah terjadi. Locker seperti Detroit Locker ataupun LockRight tergolong jenis positive locker.

Bahkan jika mengacu pada definisinya, maka Lock-las alias loker custom yang dibuat dari cara mengelas sidegear yang ada pada open diferential tergolong jenis ini.

2. Negative Locker
Nama ini dibubuhkan pada jenis locker part-time. Artinya Locker tersebut dapat diaktifkan maupun dinonaktifkan sesuai dengan kebutuhan. Sederet nama seperti ARB Air Locker, Eaton E-Locker hingga OX Locker masuk dalam golongan yang satu ini.

Banyak ragam cara untuk mengaktifkan ataupun menonaktifkan jenis locker ini. ARB menggunakan udara atau pneumatik, sedangkan E-Locker menggunakan solenoid (piranti elektronik), dan OX Locker mengandalkan kabel. Sekadar menyegarkan ingatan, locker lokal berpenggerak kabel buatan Leo Firmanto sempat meramaikan peta off-road Indonesia beberapa waktu silam.

Kaca Belakang Flip, Gaya dan Praktis


JIP - Beberapa tipe SUV memberikan fasilitas yang memudahkan kala mengambil barang dari kabin belakang, tanpa harus membuka pintu belakang. Cukup dengan membuka kaca belakangnya saja. Contohnya Nissan Terano King Road, Ford Escape, CR-V dan beberapa merek lain. “Walau sederhana, namun ternyata cukup praktis,” tutur Dodi Setiady dari Autotec Bandung.

“Sebenarnya sistem seperti ini pun bisa diaplikasikan pada kendaraan lain, seperti Jimny, Taft GT dan lain sebagainya. Dengan sedikit modifikasi, kita dapat menikmati,” sambungnya sembari menunjukkan satu contohnya pada Taft GTS pelanggannya.

“Untuk mengubahnya menjadi kaca flip, tiap-tiap kendaraan memiliki spesifikasi teknis yang beda. Namun pada dasarnya hampir semuanya bisa diubah,” sambung Dodi. “Contoh paling gampang adalah Daihatsu Taft atau Suzuki Jimny SJ410V beratap logam,” lanjutnya. “Bisa dilakukan, tanpa merombak lis bingkai kacanya sama sekali,” serunya.

Menurut Dodi, ukuran kaca bisa saja sesuai aslinya. Namun lebih baik jika lebih besar, hingga seluas karet kacanya. Tujuannya, agar bisa tampil lebih rapi. “Pesan kaca yang lebih tebal dibandingkan aslinya,” wanti bapak satu anak ini.

Supaya bisa berfungsi dengan baik, tak hanya kaca baru yang dibutuhkan untuk instalasi ini. Perlu peranti lain seperti engsel, sokbreker teleskopik pintu, pengunci pintu dan kawat pembuka kaca diperlukan supaya kaca flip bisa beroperasi.

Sepasang sok hidraulis pintu bertugas menyangga kaca saat terbuka. Untuk menahan kaca supaya bisa tertutup rapat, dibutuhkan sebuah pengunci kaca yang biasa menggunakan pengunci pintu belakang Toyota Kijang kapsul. Untuk membukanya, bisa menggunakan kawat pembuka tutup bensin yang juga diambil dari milik Kijang kapsul.

“Sedangkan untuk engsel, kita bisa menggunakan milik beberapa kendaraan, seperti Terano ataupun Escape, namun lebih pas kita bisa membuatnya secara custom,” tutup Dodi.

Sokbreker
Sepasang sokbreker comotan dari pintu belakang Jimny dipergunakan sebagai penahan kaca .

Tuas pembuka
Untuk membuka kaca belakang ini dibutuhkan tuas pembuka yang dioperasikan dari dalam kabin. Pengoperasiannya menggunakan kawat yang biasa dipergunakan untuk membuka tutup bensin Toyota Kijang kapsul stationwagon.

Estimasi biaya
1. Sokbreker pintu Jimny Katana atau CRV : Rp 150 ribuan hingga Rp 300ribuan
2. Pengunci pintu belakang Kijang : Rp 300 ribuan
3. Kabel pembuka tutup bensin Kijang : Rp 70 ribuan
4. Tuas pembuka : Rp 30 ribuan
5. Engsel : Rp.@ 50 ribuan s/d Rp 300 ribuan
6. Kaca : Rp. 700 s/d 1.5 jutaan

Thanks to :
Autotec 4x4
Jl. Cemara no 35 Bandung
No. (022)701.234.02

Pilih-pilih Transfercase Jimny

Salah satu keistimewaan Suzuki Jimny terletak pada transfercase atau T-casenya. Peranti ini bukanlah yang terkuat, namun, dari LJ-80, SJ410 hingga SJ413 Caribian, memiliki keistimewaan lantaran transfercas-nya dibuat terpisah dari unit girboks, alias berdiri sendiri.

Ini memudahkan untuk saling bertukar-tukaran antara sesama jip Suzuki, ataupun merombak Jimny 4x2 menjadi 4x4 . “Perlu diperhatikan, LJ80 dan SJ410 memiliki format yang berbeda, sehingga antara keduanya tidak bisa saling bertukar tempat,” terang Tri Handoko dari bengkel CBX di bilangan Pondok Gede Bekasi.

LJ80 digolongkan sebagai Jimny generasi I dengan bonggol gardan di tengah, baik depan maupun belakangnya, sedangkan SJ410 adalah Jimny generasi II yang memiliki format gardan pinggir,” lanjutnya. “Jimny generasi I hanya bisa saling bertukar tempat dengan sesama generasi I, sedangkan untuk Jimny generasi II, selain bisa bertukar dengan sesama generasinya, juga bisa bertukar dengan Jimny generasi III ,” sahut Edward Daniel dari MMC di bilangan Pejaten Jakarta Selatan.

Bukan hanya itu, ternyata t-case Jimny ini memiliki keunggulan lain. “Model formasi terpisahnya memudahkan untuk diaplikasi pada kendaraan lain. Singkatnya kita bisa membuat sebuah kendaraan 4x2 menjadi kendaraan 4x4 berbekal transfercase ini,” cerocos Hadi Kusnadi yang kenyang dengan modifikasi dengan menggunakan transfercase ini. “Bahkan t-case Jimny ini terbukti mujarab digunakan sebagai peranti PTO (Power Take Off) lho,” sambung pria yang akrab disapa Atung ini.

Keunikan inilah yang kemudian menjadikannya salah satu t-case yang paling dicari. Dengan masuknya limbah otomotif ke Indonesia, maka kemungkinan untuk mendapatkan peranti tersebut menjadi lebih terbuka. Banyaknya gerai importir limbah mesin yang menyediakan peranti ini juga memungkinan dijumpainya pilihan t-case dengan spesifikasi yang tidak tersedia di pasar domestik.

Menentukan pilihan T-case tentu dipengaruhi oleh kebutuhan. “Jika hanya ingin mengganti transfercase yang rusak, sebaiknya menggunakan spesifikasi yang sama. Namun, jika memang berencana untuk keperluan tertentu, seperti pemakaian ban yang lebih besar, maka bisa memilih transfercase dengan spesifikasi lebih low,” papar Daniel.

Ketika memilih T-case yang notabene barang bekas, diperlukan kejelian dan kecermatan tersendiri. “Ada beberapa trik untuk mengetahui kondisi T-case yang akan dipilih. Tips ini secara global akan menunjukkan kondisi T-case pada umumnya yang tentunya akan menjadi modal dalam perburuan,” terang Tri.

Untuk lebih jelasnya kita simak bareng-bareng.

(Tc)
Langkah
1. Cermati bentuk fisik dari transfercase tersebut. Pastikan tidak terdapat cacat berupa retak atau pecah pada casingnya, terutama pada lubang baut tanam penyangga t-case ini. (tc)

(Tc1)
2. Putar flange T-case. Pastikan putaran pada tiap flange, baik itu input ataupun output, terasa licin dan lancar. Ini untuk mendapatkan gambaran kasar, sekaligus memeriksa kondisi bearing dan gir masih baik dan layak.(tc 1)

(Tc2)
3. Cek pengoperasian tongkat. Pastikan bahwa perpindahan dari 2H, 4H, N dan 4L dapat dilakukan dengan mudah dan lancar. Jangan lupa untuk memastikan bahwa tiap posisi gigi T-case sesuai dengan pola dan berfungsi sebagaimana mestinya. Posisi 2H, maka yang berputar bagian input dan outpun belakang saja. Posisi 4H & 4L, maka yang berputar adalah input, output belakang dan output depan. (tc 2)

(Tc3)
4. Jangan lupa periksa tersedianya kelengkapan seperti teromol rem ataupun switch shifter transfercase. Walaupun bukan termasuk peranti utama, namun ketiadaan peranti ini jelas merupakan nilai minus. (tc 3)

Besar & Kecil
Secara umum, transfercase Jimny generasi II dibagi atas tiga katagori. Jimny generasi II ini mengenal jenis transfercase kecil, besar dan rantai (chain drive). Jenis transfercase kecil mulai dipakai sejak tahun 1981, pada SJ30 hingga 1987. Sedangkan untuk SJ410 atau SJ40 digunakan sejak 1981 (untuk pasar Jepang) atau 1982 (untuk pasar Indonesia), dan tidak digunakan lagi oleh Jimny mulai rakitan 1984, di mana posisinya digantikan oleh jenis tranfercase yang lebih besar.
Transfercase besar ini bisa dikatakan fenomenal. Jenis ini dipergunakan oleh semua tipe Jimny yang beredar hingga 1995 (untuk pasar Jepang) di mana Jimny menerima jenis transfercase baru dengan pengerak rantai (chain drive), yang kemudian dipergunakan sebagai standar bagi Jimny generasi III. Pada T-case besar ini, Jimny mengalami lompatan besarnya dengan low gir yang begitu mendunia.
Apakah pada SJ410 T-case kecil lebih low dibandingakan dengan T-case besar? Iya, t-case kecil memiliki standar rasio gir 1,589 (H) dan 2,567 (L), sedangkan si besar memiliki perbandingan 1,580(H) dan 2,511(L). Namun begitu, perbandingan rasio antara keduanya bisa dikatakan tidak signifikan. (t-case besar & t-case kecil)

Menghitung Rasio
Selain memilih t-case dalam kondisi yang baik, sebaiknya kita juga mengetahui rasio t-case bersangkutan. Cara paling mudah, atur gigi ke posisi 2H, 4H atau 4L, dan putar output atau input shaftnya, maka kita akan mendapatkan rasio yang dapat dicermati langsung dari perbandingan putaran pada input dan outputnya.
Sebagai contoh t-case SJ410 rasio putarannya 1,580 (H) dan 2,511 (L). Artinya, jika diposisikan pada H, maka shaft input akan berputar 1,580 kali sedangkan untuk shaft outputnya baru sekali. Begitu pun dengan posisi L, dimana 2,511 putaran pada shaft input akan menghasilkan satu rotasi pada shaft outputnya. Sedangkan jika diposisikan dalam kondisi N, maka shaft inputnya saja yang berputar, shaft outputnya tidak. (pt)


Harga
Transfercase Jangkrik atau LJ80 bisa dikatakan barang yang susah-susah mudah didapat. “Kalaupun ada, jarang sekali kita mendapatkan copotan dari limbah luar negeri. Malahan kebanyakan justru dari limbah kampakan lokal, sehingga harganya pun bervariasi,” ujar Bimo Wicaksono dari Bengkel Bimo. “Namun biasanya dipatok pada kisaran harga Rp 1 hingga 2 jutaan, tergantung kondisi dan kebutuhan.”

Berbeda kisahnya dengan Jimny generasi SJ410 atau SJ413. Generasi kedua Jimny ini memiliki pilihan yang relatif banyak. “Secara garis besar terdapat empat pilihan T-case untuk jenis ini. Bahkan bisa juga menggunakan milik Jimny generasi III yang sudah menggunakan penggerak rantai (chain drive),” ujar H Agus dari Dua Sekawan. Untuk harga, t-case gen II ini lebih ‘terang’, yakni dibanderol antara Rp 1,5 juta hingga Rp 1,75 juta.”

Daftar substitusi LJ80 (generasi I)
LJ10 : 2.975 (low)/ 1.744 (high)
LJ20 : 3.012 (low)/ 1.714 (high)
LJ50 : 3.012 (low / 1.714 (high)
Lj80 : 3.012 (low)/ 1.714 (high)
SJ10 : 3.012 (low)/ 1.714 (high)
SJ20 : 3.012 (low)/ 1.714 (high)


Daftar subtitusi SJ410 (generasi II)
SJ30 : 3.052 (low) / 1,741 (high)
SJ40 : 2.511 (low) / 1,580 (high)
SJ410 : 2.511 (low) / 1,580 (high)
SJ 413 : 2.268 (low) / 1.409 (high)
JA51 : 2.268 (low) / 1.409 (high)
JA71 : 2.511 (low) / 1.580 (high)
JA11 : 2.511(low) / 1.580 (high)
JA12 : 2.123 (low) / 1.320 (high)
JA22 : 2.123 (low) / 1.320 (high)
JB 23 : 2.145 (low) / 1.320 (high)
JB33 : 2.145 (low) / 1.320 (high)
JB23-7 : 2.643 (low) / 1.320 (high)
JB43 : 2.643 (low) / 1.320 (high)

Thanks to

CBX
Taman Bongas Blok H No 9 Jatiwaringin Asri Pondok Gede Bekasi
Telp: 081.111.7442
Bengkel Bimo
Jl. Raya Jati Makmur No. 1, Pondok Gede, Bekasi
Telp: 081.183.6297

MMC
Jl Raya CondetPejaten No. 1 Jakarta Selatan
Telp: (021) 798.6825
Atung
Telp : (022) 2017724 / 022336066

Transfercase loncat pada Taft? Ini Solusinya!


JIP - Coba bayangkan skenario ini : Saat akan menaklukkan tanjakan curam, kita pun memposisikan tuas transfercase ke 4L. Namun di tengah-tengah tanjakan, tiba-tiba tuas itu lompat kembali ke posisi netral (N). Bisa dibayangkan petaka yang menghadang, kendaraan sekonyong-konyong menggelinding tanpa bisa dikendalikan!

(Tc 1)
Loncatnya posisi tuas transfercase ini merupakan kejadian yang amat fatal. Terutama pada posisi tuas di 4L, karena akan pindah ke netral. Bila posisinya di 4H, biasanya hanya akan loncat ke posisi 2H.

(Tc 2)
Penyakit ini pun bisa menyerang semua jip 4x4 lawas, termasuk Daihatsu Taft Kebo, GT ataupun Rocky. “Menjadi momok yang merisaukan pengguna Taft,” tutur Hendro Adi Pramono dari bengkel AMS di bilangan Jakarta Timur ini.

(Tc 3)
Menurut Hendro, sebenarnya penyakit tuas lompat lebih banyak disebabkan oleh ketidakperdulian pada gejala awal kerusakan. Kerusakan tentu berawal dari ausnya beberapa komponen internal transfercase, seperti bearing bambu pada counter gear. “Jika dibiarkan, maka akan memicu serangkaian kerusakan susulan yang sifatnya lebih parah, dan membutuhkan biaya besar,” terang Hendro.

(Tc 4)
Apabila gejala sudah dideteksi secara dini, maka kerusakan bisa dihindari. “Maintenance menjadi kunci utamanya. Taft memang terkenal badak, namun bukan berarti tidak butuh perawatan,” wanti Hendro.

(Tc 5)
Bila gejala sudah muncul, maka langkah selanjutnya adalah segera memperbaiki, dan mengganti komponen yang sudah aus.

(Tc 6)
Gejala
Sebaiknya waspada apabila terlihat kebocoran pada flange transfercase, baik pada bagian menuju gardan depan ataupun belakang. Hal ini disebabkan oleh ausnya seal oli pada unit tersebut. Dengan berkurangnya oli pada transfercase, maka pelumasan pun terganggu, yang kemudian berimbas pada bearing.

(Tc 7)
Segera bertindak jika timbul bunyi mengaung, yang merupakan indikasi keausan bearing bambu. Ini lantas membuat countergear tidak berputar secara presisi pada tempatnya, yang berujung pada ausnya as pada gir tersebut. “Ini mengakibatkan hub sleve naik turun dan beradu dengan garpu transfercase. Inilah penyebab loncatnya tuas,” cerocosnya. (gbr. tc, 1, 2 & 3)

(Tc 8)
Efek Domino
Rentetan kejadian kurangnya debit oli pada transfercase ini berdampak lanjut. Bagai efek domino, kerusakan lain pun menyusul. “Kerusakan pada gigi counter gear menjadi daftar selanjutnya. Tak hanya itu, karena hub sleve berputar tidak presisi dan naik-turun, maka tidak hanya garpu transfer saja yang bakal rusak, namun juga as yang menghubungkan tuas transfer dengan garpu.
Ausnya as ini akan ikut mempengaruhi ‘warga’ penghuni transfercase yang lain. “As garpu yang sudah cacat akan membebani kerja dua macam bantalan pelor dan sejumlah per. Hal ini menyebabkan pelor menjadi tidak presisi lagi dan per pada bagian tersebut melemah,” tutup Hendro. (gbr tc4, 5, 6, 7 , 8 & 9)

(Tc 9)
Harga sparepart
Bearing bambu : Rp. 45 ribuan/pc
As garpu : Rp. 160 ribuan/pc
Garpu : Rp. 750 ribuan/pc
Per pelor : Rp. 15 ribuan x 2pcs
Pelor bulat : Rp. 10.ribuan x 2pcs
Pelor kapsul : Rp. 30 ribuan/pc

Biaya bongkar pasang tranfercase Rp 350 ribuan

Thanks to:
AMS Workshop Specialist
Jl. MT Haryono No. 48 Cawang (Samping gedung BNN)
Jakarta Timur
T: (021) 70041071 / 0818171602
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...