Laman

Recent Posts

Rabu, 21 September 2011

Sejarah Toyota Kijang di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Presiden Direktur Toyota Motor Corp, Akio Toyoda, punya hubungan khusus dengan mobil Toyota Kijang yang legendaris di Indonesia. Rupanya, ketika Toyota memutuskan untuk memproduksi jenis Kijang, adalah Toyoda yang bertanggungjawab atas proyek ini.

"karena itu kijang Innova menempati posisi spesial di hati saya," kata Toyoda di kantor Wapres, Selasa.

Kijang Buaya
Dalam sejarahnya, Toyota Kijang sudah mondar-mandir di jalanan Indonesia sejak 1977. ketika itu Kijang yang pertama berbentuk mobil bak terbuka yang sederhana. Engsel pintunya bahkan tampak di sisi luar. Jendela mobil bahkan dari terpal dan ditutup plastik.

Mobil awal ini diberi mesin tipe 3K berkkuatan 1.200 CC dengan empat transmisi. Ada julukan pula bagi mobil ini. Karena hidungnya atau kap mesinnya yang unik, yaitu dibuka ke samping, maka ia disebut Kijang Buaya. Angka penjualannya mencapai 26.806 unit.


Kijang Doyok
Empat tahun kemudian Toyota mengeluarkan versi terbaru dari Kijang Buaya. Mobilnya mengalami beberapa perubahan. Engsel pintu yang mirip engsel pintu rumah yang di dalam, kap mesinnya tak lagi membuka ke samping tapi ke atas, serta adanya grill dan permukaan pintu yang serupa dengan body mobil. Mesinnya meningkat menjadi 1.300 cc

Kijang ini kemudian disebut 'Kijang Doyok'. Kabarnya kata 'Doyok' mengambil dari komik populer di koran ibukota waktu itu.

Pada 1982, generasi kedua ini mengalami penyempurnaan dengan penambahan kunci pintu kanan. Tahun 1983, transmisi dan differential-nya disempurnakan, sekaligus dilakukan penambahan booster untuk sistem pengereman. Gril dan bumper bagian depan diubah dengan tampilan yang lebih menarik.

Perubahan masif terjadi pada 1985. Ketika Toyota menelurkan Toyota mesin 5K dengan kapasitas 1.500 cc. Meskipun kapasitas silinder yang dimilikinya lebih besar, ternyata konsumsi bahan bakarnya masih lebih hemat sekitar lima persen dibandingkan tipe sebelumnya.

Dalam lima tahun produksinya, Kijang ini laris manis di pasaran. Tercatat ia terjual 100 ribu unit lebih.


Kijang Super dan Grand
Setahun setelah perubahan di bagian mesin, Toyota merubah total eksteriornya. Mereka memperkenalkan teknologi Full Pressed Body. Teknologi ini bisa mengurangi bobot kendaraan dua sampai lima kilogram.

Di era Kijang Super inilah diperkenalkan varian Kijang Pendek dan Kijang Panjang. Toyota juga membuat varian transmisi, dari empat transmisi menjadi lima transmisi.

Pada 1992, Toyota menelurkan generasi Kijang Mewah, Kijang Grand. Dari sisi body, mobil ini menggunakan teknologi sedan, yaitu mesin press berkekuataan besar. Body-nya diklaim bebas dempul dan disamakan dengan produksi sedan.

Eksterior Kijang Grand pun makin manis. Dengan lampu depan baru, grill, dan bumper belakang. Interiornya, selain mengubah bentuk dashboard , Toyota juga menambahkan AC double blower untuk tipe Grand Extra. Kijang generasi ketiga ini berhasil membukukan angka penjualan sebanyak 492.123 unit.

Kijang Kapsul

Januari 1997, wajah Kijang kembali berubah. Kali ini total. Sebutannya pun jadi Kijang kapsul karena lekuk tubuhnya yang lebih aerodinamis.

Untuk chasis long tipe Deluxe dan Grand, tempat duduk bagian belakang menghadap ke depan dan bisa dilipat, sehingga menambah kenyamanan penumpang. Dashboard-nya juga mengalami perubahan total.

Pada Februari 2000, dilakukan penyegaran tampilan eksterior dan interior, yang meliputi perubahan pada lampu, bumper dan dashboard-nya.

Kijang EFI berkapasitas 2.000 cc diluncurkan pada bulan September 2000, dengan mesin bertipe baru, 1RZ-E untuk variant Grand dan Krista, sebagai tambahan tipe K yang selama 20 tahun telah diakui kehandalannya. Penjualan Kijang generasi keempat ini telah mencapai angka 269.226 unit.

Innova

Pada 2005, Kijang kembali berubah. Dengan mengusung konsep kendaraan untuk pasar menengah, mereka memperkenalkan Kijang Innova. Kendaran ini dilempar pula ke negara lain dengan nama 'Innova'. Bentuknya jauh lebih aerodinamis dan futuristik. Dengan lekukan halus di seluruh bodynya. Generasi ini mencangkokkan mesin VVT-i 2.000 cc berkatup 16 DOHC. Ini memberi tenaga yang jauh lebih besar daripada Kijang generasi sebelumnya.

Selasa, 20 September 2011

King of the Hammers 2010



Berikut adalah video oleh-oleh rekan Tunggul Birawa yang menyempatkan diri di sela-sela lawatannya ke Amerika, meliput event King of the Hammers 2010 yang digelar di Johnson Valley - California.

Launching New Jeep Patriot dan New Jeep Wrangler




Jakarta - Tidak hanya meluncurkan New Jeep Wrangler, PT Chrysler Indonesia juga turut menyertakan New Jeep Patriot yang secara resmi dipasarkan dengan harga Rp 585 juta On The Road Jakarta.

Jeep Patriot model tahun 2011 ini mendapat permakan di wajah depan dan juga bagian belakangnya. Ground Clearence yang lebih tinggi, serta sistem steering dan suspensi yang sudah dibenahi.

Sementara didalam kabinnya, panel trim baru, serta stir yang sudah dilengkapi dengan switch audio, cruise control, jga handsfree phone. Selain itu, pengaturan kursi elektrik dan audio 9 speaker pun bakal memanjakan penggunanya.

New Jeep Patriot masih dibekali mesin yang sama, berkapasitas 2.4 liter dengan tenaga 172 Hp dan torsinya 224 Nm. Mesin tersebut berpadu apik dengan transmisi CVT 4-speed. Juga tersedia fitur Freedom Drive I - full time 4WD.

"Kehadiran New Jeep patriot tentunya bakal melengkapi koleksi Jeep di tanah air, dengan berbagai inovasi dan keunggulan fiturnya," jelas Managing Director Chrysler Indonesia, Muhammad Abdulah.

Transfercase loncat pada Taft? Ini Solusinya!


JIP - Coba bayangkan skenario ini : Saat akan menaklukkan tanjakan curam, kita pun memposisikan tuas transfercase ke 4L. Namun di tengah-tengah tanjakan, tiba-tiba tuas itu lompat kembali ke posisi netral (N). Bisa dibayangkan petaka yang menghadang, kendaraan sekonyong-konyong menggelinding tanpa bisa dikendalikan!

(Tc 1)
Loncatnya posisi tuas transfercase ini merupakan kejadian yang amat fatal. Terutama pada posisi tuas di 4L, karena akan pindah ke netral. Bila posisinya di 4H, biasanya hanya akan loncat ke posisi 2H.

(Tc 2)
Penyakit ini pun bisa menyerang semua jip 4x4 lawas, termasuk Daihatsu Taft Kebo, GT ataupun Rocky. “Menjadi momok yang merisaukan pengguna Taft,” tutur Hendro Adi Pramono dari bengkel AMS di bilangan Jakarta Timur ini.

(Tc 3)
Menurut Hendro, sebenarnya penyakit tuas lompat lebih banyak disebabkan oleh ketidakperdulian pada gejala awal kerusakan. Kerusakan tentu berawal dari ausnya beberapa komponen internal transfercase, seperti bearing bambu pada counter gear. “Jika dibiarkan, maka akan memicu serangkaian kerusakan susulan yang sifatnya lebih parah, dan membutuhkan biaya besar,” terang Hendro.

(Tc 4)
Apabila gejala sudah dideteksi secara dini, maka kerusakan bisa dihindari. “Maintenance menjadi kunci utamanya. Taft memang terkenal badak, namun bukan berarti tidak butuh perawatan,” wanti Hendro.

(Tc 5)
Bila gejala sudah muncul, maka langkah selanjutnya adalah segera memperbaiki, dan mengganti komponen yang sudah aus.

(Tc 6)
Gejala
Sebaiknya waspada apabila terlihat kebocoran pada flange transfercase, baik pada bagian menuju gardan depan ataupun belakang. Hal ini disebabkan oleh ausnya seal oli pada unit tersebut. Dengan berkurangnya oli pada transfercase, maka pelumasan pun terganggu, yang kemudian berimbas pada bearing.

(Tc 7)
Segera bertindak jika timbul bunyi mengaung, yang merupakan indikasi keausan bearing bambu. Ini lantas membuat countergear tidak berputar secara presisi pada tempatnya, yang berujung pada ausnya as pada gir tersebut. “Ini mengakibatkan hub sleve naik turun dan beradu dengan garpu transfercase. Inilah penyebab loncatnya tuas,” cerocosnya. (gbr. tc, 1, 2 & 3)

(Tc 8)
Efek Domino
Rentetan kejadian kurangnya debit oli pada transfercase ini berdampak lanjut. Bagai efek domino, kerusakan lain pun menyusul. “Kerusakan pada gigi counter gear menjadi daftar selanjutnya. Tak hanya itu, karena hub sleve berputar tidak presisi dan naik-turun, maka tidak hanya garpu transfer saja yang bakal rusak, namun juga as yang menghubungkan tuas transfer dengan garpu.
Ausnya as ini akan ikut mempengaruhi ‘warga’ penghuni transfercase yang lain. “As garpu yang sudah cacat akan membebani kerja dua macam bantalan pelor dan sejumlah per. Hal ini menyebabkan pelor menjadi tidak presisi lagi dan per pada bagian tersebut melemah,” tutup Hendro. (gbr tc4, 5, 6, 7 , 8 & 9)

(Tc 9)
Harga sparepart
Bearing bambu : Rp. 45 ribuan/pc
As garpu : Rp. 160 ribuan/pc
Garpu : Rp. 750 ribuan/pc
Per pelor : Rp. 15 ribuan x 2pcs
Pelor bulat : Rp. 10.ribuan x 2pcs
Pelor kapsul : Rp. 30 ribuan/pc

Biaya bongkar pasang tranfercase Rp 350 ribuan

Thanks to:
AMS Workshop Specialist
Jl. MT Haryono No. 48 Cawang (Samping gedung BNN)
Jakarta Timur
T: (021) 70041071 / 0818171602

Modifikasi Radiator Taft, Usir Overheat


JIP - Suhu mesin perlahan merangkak naik, terutama saat digeber pada putaran tinggi. Itulah salah satu penyakit pada Daihatsu Taft, terutama generasi GT, Rocky ataupun Hiline.

“Sering juga dijumpai pada Taft yang sudah menggunakan mesin turbo comotan dari Daihatsu Rugger,” tutur Hendro Adi Pramono dari Bengkel AMS di bilangan Cawang Jakarta Timur.

“Banyak kemungkinan penyebab mesin ini panas, salah satunya posisi inlet dan outlet air radiator yang terletak hampir sejajar, tersusun atas dan bawah,” sambung pebengkel ramah ini.

Menurut Hendro, dengan posisi inlet dan outlet saluran air yang begitu, pada kondisi tertentu air tidak sempat didinginkan dengan sempurna oleh radiator. Karena inlet air yang dipompa dari arah mesin sejajar dengan saluran outlet menuju radiator.

“Maka pada putaran tinggi air tersebut tidak sempat bersirkulasi dengan baik,” cerocosnya.

“Karena posisi outlet dan inletnya berdekatan, dan putaran mesin tinggi yang serta merta membuat putaran waterpump tinggi, maka air panas yang baru keluar dari mesin langsung tersedot kembali ke dalam mesin tanpa sempat didinginkan terlebih dahulu. Akibatnya proses pendinginan pun tidak berjalan dengan sempurna. Ujung-ujungnya temperatur mesin pun merangkak naik,” jabarnya.

(Rd)
Sebelumnya, Hendro memang melakukan pengamatan, terutama pada kendaraan jenis lain yang jarang bermasalah dengan temperatur.

“Beberapa kendaraan dengan outlet dan inlet tidak sejajar memiliki pendinginan yang lebih baik. Dengan radiator outlet dan inlet bersilang (misalnya outlet di kanan dan inlet di kiri) memiliki peluang pendinginan lebih baik, karena air terlebih dulu disebar ke seluruh penjuru radiator sebelum disedot ke dalam mesin,” papar Hendro.

Ia pun mempraktikkan teori itu pada Taft GT bermesin Rugger miliknya. Ia menggeser posisi outlet radiatornya sejauh 30 cm dari semula, sehingga inlet dan outlet bersilangan. “Aku nggak berani ngomong kalau belum membuktikannya sendiri. Dan hasilnya cukup menggembirakan,” sambungnya.

“Temperatur jadi lebih stabil, walau mesin dipaksa meraung pada putaran tinggi,” imbuhnya. “Untuk aman dan sempurnanya, sebaiknya proses penggusuran melibatkan tukang radiator yang baik untuk memperoleh kualitas yang memuaskan,” tutupnya.

Overheat??…no way..!!!

(Rd 4)
Langkah
1. Setelah dicopot dari tempatnya, lokasi outlet baru pun ditentukan. Posisinya bergeser sekitar 30 cm dari tempat asalnya. (Rd)

(Rd 6)
2. Sebuah pipa berbentuk L dipasangkan pada lubang pindahan tersebut. Pipa ini memiliki diameter sama dengan orisinalnya, namun memiliki leher lebih panjang kurang lebih 30 cm.(rd , 4 & 6 )

(Rd 2)
3. Pindah saluran buangan air yang semula di tengah menjadi di samping. Tujuannya supaya tidak menghalangi pipa baru, dan lebih mudah saat membuang air ketika radiator dikuras.(rd 2 & 3)

(Rd 3)
Baru Taft
Sejauh ini, trik yang dipergunakan Hendro masih terbatas bagi Taft GT. Namun pada dasarnya, kendaraan lain seperti Taft Kebo, Suzuki Jimny atau kendaraan yang lubang outlet dan inlet radiatornya sejajar pun bisa mengaplikasi.

Perlu kami tambahkan bahwa sebelum langkah ini diambil, pastikan dulu kondisi komponen sistem pendingin sudah optimal. Jangan sampai memodifikasi saluran air hanya karena ekstra fan yang rusak, atau radiator kotor.

Pasang Lampu Belakang LED? Kenapa Tidak!


Salah satu perkembangan paling signifikan untuk penerangan kendaraan adalah penggunaan LED (Light Emiting Diode). Tidak hanya menjadi monopoli sedan maupun minibus, namun penggunaan LED telah merambah pada SUV dan jip.

LED mempunyai sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki oleh lampu konvensional. “Yang paling menonjol adalah pemakaian daya lisrik (watt) yang kecil. Sebuah rangkaian LED butuh daya jauh lebih kecil dari sebuah lampu konvensional,” tutur Wira Santosa dari Asia Jaya Motor di bilangan Pondok Gede, Bekasi.

“Selain itu LED juga lebih tahan lama dan mengeluarkan sinar 0,2 detik lebih cepat dibandingkan lampu konvensional. Sehingga respons, terutama pada lampu rem, menjadi lebih cepat,” sambungnya.

Menurut Wira, sebenarnya LED merupakan jenis diode yang dapat mengeluarkan sinar. Peranti ini akan mengeluarkan sinar saat dilewati arus. Besar kecil arus ini diatur oleh kapasitor. Karena itu, selain wattnya kecil, LED tidak memancarkan panas seperti halnya lampu pijar konvensional. “Ini yang membuatnya awet,” sambungnya.

Penggunaan LED bukanlah monopoli kendaraan-kendaraan moderen, yang tua pun sah-sah saja mengaplikasikan. “Tentunya butuh penyesuaian-penyesuaian,” ujar Wira.

Ada beberapa LED lansiran aftermarket, seperti untuk Jeep. Namun sejauh ini LED belum menjamah merek kebanyakan. “Tapi, kita bisa mengubah lampu konvensional menjadi lampu LED,” cerocos Wira.

Mengubah sebuah lampu konvensional menjadi LED tentunya butuh kiat-kiat khusus. Untuk bisa mengaplikasikan LED, butuh media berupa papan PCB, resistor dan tentunya unit LED itu sendiri. Pada beberapa jenis jip, penggantian ini mudah dilakukan, akan tetapi pada beberapa kendaraan lainnya perlu upaya lebih.

“Kemampuan berpijar sebuah lampu konvensional tentu tidak bisa digantikan dengan hanya memasang sebuah LED saja,” sambung Harsanto dari bengkel Bali Mega di kawasan Jakarta Selatan. Sinar sebuah LED lebih redup dibandingkan bohlam lampu biasa, namun cahayanya lebih tegas,” sambung pria yang banyak menangani Jeep ini.

“Butuh banyak LED untuk bisa menyamai terang sebuah bohlam lampu, sehingga tak mengherankan jika dua puluh hingga empat puluh LED sekaligus dapat dipergunakan untuk sebuah lampu belakang,” papar pria yang akrab disapa Santo ini. Namun secara matematis, hitungan daya yang dikeluarkan unit lampu yang sudah menggunakan LED lebih kecil jika dibandingkan dengan bohlam konvensional,” kekehnya.

Ragam LED
Dalam perkembangannya, kita mengenal aneka ragam LED yang beredar di pasaran. Dari sekian banyak yang tersedia, setidaknya terdapat empat macam yang paling dikenal dan paling banyak digunakan dalam dunia otomotif.

LED model silinder masih menjadi tipe paling populer. Jenis ini ditandai dengan dua kaki, dan tersedia dalam pilihan dari LED 3 mm, 5 mm dan 10 mm. Super Flux merupakan LED yang belakangan ini marak dipergunakan. Ciri utamanya terdapat pada kaki yang berjumlah empat batang.

Jenis Super Flux belakangan ini banyak digunakan kendaraan kelas premium seperti BMW ataupun Mercedes Benz, namun pada dasarnya semua LED tersebut memiliki cara kerja yang sama.

Berbeda dengan bohlam lampu, LED tidak memerlukan mika berwarna untuk menimbulkan efek warna. Salah satu keistimewaan LED ini adalah kemampuannya bersinar dengan warnanya sendiri, seperti merah, putih, kuning, biru dan lain sebagainya. Sehingga di beberapa kendaraan justru menggunakan mika bening sebagai penutupnya. (foto : macam led)

Tailgate & Third Brake Lamp
Sebenarnya semua fungsi lampu konvensional dapat digantikan oleh LED. Namun pada umumnya hanya pada tailgate (lampu belakang) dan third brake lamp (lampu rem tambahan) saja.

“Lampu sein sebenarnya bisa menggunakan LED, namun karena wattnya terlampau kecil, maka tidak bisa langsung diaplikasi. Jika dilakukan, maka beban flaser sein akan jauh berkurang, hasilnya sein akan berkedip terlalu cepat,” terang Wira. “Untuk itu butuh alat tambahan berupa rangkaian elektronik khusus,” sambungnya.

Hal ini yang membuat produsen kendaraan hanya mengaplikasikan pada produk-produk premium. “Alasannya klasik, biaya tambahan,” selorohnya.


Selain lebih cepat bersinar dibandingkan dengan bohlam lampu, LED memiliki kelebihan lain dengan pendar yang lebih kuat dan tajam. “Kita bisa lihat pada lampu emergency pada kendaraan F1. Walau hujan sekalipun, cahaya LED ini masih bisa terpantau,” imbuh Santo. “Hal inilah yang dikatakan bahwa LED sangat cocok dipergunakan sebagai lampu belakang dan lampu rem tambahan,” tegasnya. (tailgate)

Modifikasi
Mengubah sebuah lampu konvensional menjadi LED, berarti mengubah mekanisme lampu tersebut secara total, dengan asumsi bahwa lampu lama dipergunakan kembali. Batok lampu dan mikanya yang menjadi bagian yang fokus untuk digunakan.

Pada dasarnya lampu LED tidak memerlukan banyak ruang untuk meletakkan jajaran unitnya. Papan PCB-lah yang menjadi wahana ditempelkannya LED berikut dengan resistornya. Ukuran papan bisa disesuaikan dengan ruang yang tersedia pada ruang lampu. “Papan PCB kita desain menyesuaikan kebutuhan dan ruang yang ada. Sedangkan untuk LED kita bisa atur jumlah dan susunannya, tentunya disesuaikan dengan ruang dan kondisi batok lampunya,” cerocos Wira.

“Sebenarnya tidak ada mika khusus untuk lampu LED. Mika bermotif bawaan asli kendaraan pun bisa digunakan. Mika lampu bermotif tidak banyak mempengaruhi kualitas cahaya,” terang Santo. “Namun tidak ada salahnya juga jika kita memodifikasi dan mengubahnya menjadi mika bening tak bermotif layaknya lampu mobil masa kini,” sambung pria berperawakan mungil ini.

“Model mika bening akan lebih sempurna lagi jika ditambahi dengan reflektor khusus yang berfungsi untuk semakin menajamkan cahaya yang dihasilkan LED. Penggunaan reflektor ini sebaiknya dihindari jika masih mengandalkan mika lampu bermotif. Sia-sia saja, cahaya yang dihasilkan tidak akan maksimal dan tentunya hanya akan membuang biaya percuma saja,” tutup Wira.

Utilitas Traction aid II Locker

Jika pada edisi lalu kita sudah menguak Limited Slip Differential (LSD), tentunya tidak adil bila kita melupakan locker. Bila LSD menyesuaikan besar tenaga yang tersalur ke setiap roda (kiri-kanan) dengan beban, maka locker langsung mematok pembagian tenaga tersebut.

Jadi tenaga yang tersalur ke sisi kiri dan kanan selalu sama. Dalam kondisi tertentu, traksi ‘penuh’ seperti inilah yang kerap diperlukan. “Semisal merayapi medan bebatuan atau permukaan keras lainnya, respon yang diberikan LSD tidak spontan. Butuh entakan untuk membuat LSD mengunci,” lanjut Daniel Edwar dari MMC.

Positive locker
Jika butuh traksi spontan, maka differential locker pun hadir sebagai solusi. Sesuai namanya, locker berarti pengunci. “Dalam hal ini, diferensial benar-benar dikunci dan berputar sebagai satu poros yang sama, dengan kecepatan yang sama pula,” tutur Tri Handoko dari CBX Motorsport di bilangan Pondok Gede Bekasi.

Karakter itulah yang membuat banyak pengguna jip menganggap locker lebih nyata memberikan kontribusi traksi dibandingkan LSD. Tak mengherankan jika locker banyak digemari off-roader di Indonesia, terutama yang sering terjun dalam event kompetisi.

“Locker lebih spontan untuk memutar kedua belah roda. Saya lebih memiliki feeling untuk menggunakan locker dibandingkan LSD,” tutur Joko Suryono yang lebih dikenal sebagai Joko Jangkrik.

Menurut Joko, karena traksi dan putaran roda yang pasti, Ia pun lebih mudah menebak traksi yang bakal didapat dibanding menggunakan LSD yang pembagian traksinya tergantung pada medan dan hentakan pada as roda.

“Tapi, saya tidak menyarankan locker pada kendaraan harian. Banyak faktor negatif yang ditimbulkannya. Salah satunya ban lebih cepat habis,” kekehnya sembari menutup perbincangan.

Negative Locker
Ragam Locker
Secara umum locker dapat dibagi menjadi menjadi dua macam kategori yang disebut dengan positive locker dan negative locker. Kedua kategori ini dibedakan dari jenis aktivasinya.

1. Positive locker
Locker ini sifatnya permanen, dimana proses penguncian pada rodanya tidak bisa dilepas. Sekali dipasang, maka selamanya kerja efek differential tidak pernah terjadi. Locker seperti Detroit Locker ataupun LockRight tergolong jenis positive locker.

Bahkan jika mengacu pada definisinya, maka Lock-las alias loker custom yang dibuat dari cara mengelas sidegear yang ada pada open diferential tergolong jenis ini.

2. Negative Locker
Nama ini dibubuhkan pada jenis locker part-time. Artinya Locker tersebut dapat diaktifkan maupun dinonaktifkan sesuai dengan kebutuhan. Sederet nama seperti ARB Air Locker, Eaton E-Locker hingga OX Locker masuk dalam golongan yang satu ini.

Banyak ragam cara untuk mengaktifkan ataupun menonaktifkan jenis locker ini. ARB menggunakan udara atau pneumatik, sedangkan E-Locker menggunakan solenoid (piranti elektronik), dan OX Locker mengandalkan kabel. Sekadar menyegarkan ingatan, locker lokal berpenggerak kabel buatan Leo Firmanto sempat meramaikan peta off-road Indonesia beberapa waktu silam.

Panduan Daihatsu Taruna Khusus Off-Road


JIP - Di negara asalnya, Jepang, SUV ini disebut dengan Terios. Namun untuk pasar lokal Indonesia, kendaraan andalan Daihatsu ini disebut sebagai Taruna. Sepertinya nama yang melambangkan kegagahan dan kewibawaan ini pun membawa hoki pada Taruna.

Sejatinya Taruna tidak bisa langsung disamakan dengan Terios di Jepang. Banyak perbedaan yang signifikan diantara keduanya. Untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar di Tanah Air, maka Terios Jepang pun dimelarkan. Sehingga sosok Taruna lebih panjang jika dibandingkan dengan leluhurnya di negeri Sakura.

Diperkenalkan di Indonesia pada 1999, ada dua varian Taruna yang kita kenal. C-Series untuk versi short wheel base dan F-Series untuk versi long wheel base. Secara keseluruan, C-Series lebih panjang jika dibandingkan dengan versi Terios Jepang, namun jika dibandingkan dengan tipe F-Series, maka C-Series lebih pendek 25 cm.

Dan sayangnya, semua varian Taruna hanya dilengkapi penggerak 4x2 saja, padahal di negeri asalnya terdapat pula jenis 4x4.

Nampaknya, PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) selaku agen tunggal pemegang merek Daihatsu di Indonesia telah membidikkan SUV ini ke pangsa kendaraan keluarga. Dimensi bodi lebih panjang, berimbas pada kemampuan lebih dalam mengangkut penumpang ataupun barang. Ini salah satu kunci keberhasilan Taruna di Indonesia.

Akar sebuah SUV tertanam kuat pada Taruna. “Dengan ground clearance tinggi, Taruna menjadi kendaraan yang fleksibel untuk menjelajah berbagai permukaan jalanan,” tutur Wahyudin, anggota Taruna Owner (Taruner)salah satu klub pengguna Taruna.

“Perawatan ringan, dilengkapi powersteering, tidak rewel dan sparepartnya mudah didapat, menjadi nilai plus tersendiri,” lanjut pria yang menjabat Divisi Otomotif Taruner ini.

Beragamnya pilihan varian yang disodorkan menambah daftar keunggulan produk Daihatsu ini. Jika berminat, ada baiknya diadakan sebuah seleksi demi mendapat Taruna idaman dengan kondisi yang jempolan.

Bodi & Sasis
Secara umum, tidak ada yang dikeluhkan pada bodi ataupun sasis Taruna. SUV ini tergolong moderen untuk rancang bangunnya. Konstruksi monokok sebagai tulang punggung, memberi kontribusi cukup signifikan pada keakuratan dan kepresisian dalam mengendara.

Pada umumnya bodi Taruna tidak rewel, terutama terhadap karat. “Bahan baku yang digunakan tergolong baik. Jika ditilik dari dari rentang usia kiprahnya, bisa dikatakan Taruna tidak bermasalah dengan karat dan korosi,” tutur Wahyudin. “Lebih sering menemui bekas senggolan atau nabrak dibandingkan karat,” selorohnya.

Sayangnya kualitas bahan lampu, dasbor dan doortrim tidak mengikuti bodi. Plastik mika lampu gampang berubah warna, menjadi keruh dan kuning. Hal ini terutama terjadi pada Taruna lansiran awal, dan baru membaik saat Taruna mengaplikasikan jenis lampu kristal pada tahun 2003. Namun demikian bahan interior dari plastik keras dan berkesan murah tetap mendampingi Taruna hingga akhir masa kiprahnya. (gb. kuning, kristal, dasbor, kabin, 7 seater)

Mesin & Drivetrain
Sepanjang kiprahnya di Indonesia, Taruna dibekali dengan dua mesin sekaligus. Mesin berkode HD 1600 cc yang juga digunakan Daihatsu Feroza sejak tahun 1999. Selanjutnya pada tahun mesin 2001 diperkenalkan mesin HE-E 1500 cc dengan pasokan bahan bakar EFI (injeksi elektronik).

Secara umum, tak ada masalah berarti dengan mesin Taruna. Penggunaan aluminium untuk blok mesin merupakan daya tariknya. Namun Anda mesti waspada jika mobil pernah terserang overheat. Perhatikan betul sambungan blok dan kepala silinder. Bila ada tanda-tanda bocor, patut dipertanyakan. Hal ini berlaku pada kedua jenis mesin yang dipergunakan pada Taruna.

Suara mesin yang cenderung kasar menjadi ciri yang melekat erat pada Taruna. “Keluhan ini terjadi pada dua jenis mesin yang digunakan. “Mungkin sudah menjadi karakter mesin Taruna. Kita sudah coba berbagai cara, namun nampaknya suara mesin ini tidak juga melembut. Dengan demikian, kondisi tersebut normal,” papar Wahyudin.

Dari awal Taruna dilengkapi dengan transmisi 5 percepatan manual. Tali kopling menjadi hal yang perlu diperhatikan. Mungkin karena desain dan kontruksinya, bagian ini sering kali kering dan menjadi getas, sehingga gampang putus. “Apabila saat menginjak pedal kopling terasa berat dan tidak lancar, sebaiknya waspada dengan kondisi tali atau kabel koplingnya,” sambung pria yang akrab disapa Yudin ini. “Namun pada dasarnya transmisi Taruna tergolong bandel dan tidak rewel. Asal penggantian oli tidak telat,” lanjutnya.

Bunyi gemuruh saat melaju menandai adanya masalah di gardan. Untuk itu, sebaiknya Anda memeriksa gardan secara seksama. Bila gemuruh ini semakin keras, kemungkinan hal tersebut merupakan sinyalemen kerusakan gigi gardan.

Sebenarnya untuk masalah kaki-kaki, Taruna tergolong tangguh. Namun sayang kaki depannya tergolong kurang bersahabat saat ball joint-nya bermasalah. “Repotnya penggantian ini harus pula diikuti dengan penggantian lower arm. Ini karena desain ball-joint tersebut menyatu dengan lower arm,” wanti Yudin ((Gb. Transmisi, mesin 16 dan efi)

Platform & Trim level Daihatsu Taruna ditawarkan dalam satu platform yang sama, namun memiliki panjang dan wheelbase yang terbagi menjadi dua varian. C-Series menjadi identitas bagi Taruna berbodi pendek, sedangkan F-Series disematkan untuk Taruna berbodi panjang. (gbr. kaleng, pw window, roofrack)

C-Series
C-Series menjadi pembuka kiprah Taruna di Indonesia, muncul pertama kali pada 1999. Tiga trim level sekaligus diluncurkan di bawah panji-panji C-Series ini. CL muncul sebagai entri level. Varian ini polos dengan pelek kaleng, tanpa power window, minus takometer dan peranti penunjang kenyamanan lainnya. Ciri utama eksteriornya terdapat pada bumper abu-abunya yang dibiarkan polos, tidak sewarna dengan bodi.

CX muncul sebagai varian satu level di atas CL. Berciri warna bodi one tone, power window, pelek alloy dan sudah memiliki takometer. CSX menjadi varian yang pada level selanjutnya dan bisa dikatakan sebagai top level di kelas C-Series. Kelengkapan tambahan seperti spoiler, footstep dan wiper. Ini menjadi keungulan dibandingkan varian-varian di bawahnya.

Pada tahun 2000 muncul spesial edition dari CSX yang disebut CSR. Varian ini dilengkapi mesin 1600 cc injeksi. Selain mesin, perbedaan lainnya terdapat pada suguhan interior mewah dengan balutan kulit pada bagian tepat duduknya. Sebagai special edition, kiprah CSR ini tidak tidak panjang dan hanya muncul di tahun 2000 saja. (gbr. cl)

F-Series
F-Series hadir mendampingi C-Series sejak 2001. Seperti halnya pendahulunya, F-Series pun dibagi menjadi FL, FX, FGX, dan FGZ. FL menjadi entry level kelas ini, kelengkapannya sama dengan CL. Begitupun dengan versi Fxnya, yang tak lain adalah versi long wheel base dari CX. Tipe ini mampu mengangkut tujuh penumpang dengan leluasa.

Namun persoalannya berbeda untuk top levelnya, yang dihuni sekaligus oleh FGZ dan FGX. Perbedaan keduanya ada pada warna. Two tone pada FGZ, dan one tone pada FGX. Mengenai fasilitas, sama dengan yang digunakan CSX. Basis platform F-Series inilah yang kemudian menjadi tulang punggung Daihatsu Taruna hingga era Oxxy.

Apalagi versi sasis panjang ini memiliki sejumlah kelebihan, berupa 2 pilihan mesin, fitur, serta kelengkapan memadai. Lihat saja fleksibilitas jok baris kedua yang bisa digeser maju-mundur untuk kemudahan akses dan pengaturan ruang kaki. Belum lagi sejumlah kompartemen penyimpanan yang menambah kepraktisan. (gbr. fgz)


Timeline
1999 : Untuk pertama kalinya PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menghadirkan sebuah SUV keluarga dengan emblem Daihatsu Taruna. Mesin 1600 cc karburator menjadi pilihannya.

2000 : Varian langka CSR diluncurkan dengan mesin 1600 cc injeksi dan dilengkapi dengan interior berbalut kulit.

2001 : Taruna F-series muncul untuk melengkapi C-series yang sebelumnya sudah hadir. Dengan wheelbase lebih panjang 250 mm, Taruna F-series pun muncul sebagai kendaraan 7 penumpang.

Daihatsu melengkapi dengan dua pilihan mesin 1.600 cc karburator dan 1.500 cc EFI menyusul. Mesin EFI berkode HE-E ini mampu memuntahkan tenaga 86 dk/6.000 rpm.

2002 : Setahun berselang, jajaran F-Series menghadirkan sebuah varian Taruna FGZ yang memiliki fitur lebih lengkap. Selain tambahan spion lipat elektrik, varian ini memiliki ciri bodi two tone dengan pilihan warna hanya biru dan silver.

2003 : Lampu depan diganti dengan model kristal. Lampu sein belakang bawah menggunakan lampu warna merah dan putih.

2004 : Minor change meliputi desain gril, pelek alloy, corak jok, penutup ban serep, wiper belakang, lampu baca dan pilihan warna baru. Spion elektrik dan audio dengan tweeter hanya tersedia pada varian FGZ dan FGX. Di tahun ini pula semua varian C-Series maupun F-Series distop produksinya, dan hanya menyisakan satu varian saja yang kemudian dikenal sebagai Oxxy.

2005 : Emblem Oxxy mulai disematkan pada Taruna sebagai langkah penyegaran. Taruna Oxxy hanya menggunakan satu pilihan mesin, 1.500 cc EFI.

Perubahan tampilan luar Taruna Oxxy cukup signifikan. Bumper guard dengan gril krom dipadukan dengan headlamp plus foglamp nampak menghiasi bagian depannya. Sementara pada buritannya dilengkapi spare wheel cover dan rear spoiler plus lampu kombinasi baru. AC double blower hadir sebagai standar di varian FGX dan FX serta pelek alloy 16 inci pada tipe termewah.

2006 :Menjadi tahun penutup kiprah Taruna. Tongkat estafet diteruskan oleh Daihatsu Terios

Merotasi Ban Asas Pemerataan



Jip - Sebuah kendaraan roda empat menjadikan keempat rodanya sebagai tumpuan berat badannya untuk berdiri di atas permukaan bumi. Pada setiap roda tersebut dibalut dengan ban yang menggelinding ke mana saja kendaraan tersebut pergi. Saat menggelinding ban ini memiliki kontak dengan permukaan aspal maupun beban kendaraan, sehingga terjadi proses penipisan atau keausan pada karet ban.

Letak mesin, transmisi, transferkase, gardan, proporsi bodi hingga model penggerak roda (wheeldrive) menjadikan distribusi berat kendaraan yang dibagikan pada keempat rodanya tidak pernah rata. Kondisi inilah yang menyebabkan ban kendaraan tidak merata habisnya. Supaya dapat habis dalam tempo yang hampir bersamaan, keempat bannya harus dirotasi, alias butuh pemerataan. “Fungsi rotasi salah satunya untuk menjaga umur ban. Dengan merotasi, maka tingkat keausan yang biasanya terkonsentrasi pada satu rangkaian (ban depan atau belakang) saja bisa diratakan sehingga umur ban pun lebih panjang,” tutur Surya Dharma. “Pada kendaraan yang menggunakan ban tipe Mud Terrain (MT) ataupun ban off-road, proses penipisannya sangat signifikan, kembangan ban berprofil kasar akan cepat tergerus, terlebih ban tipe seperti ini sebagian menggunakan jenis kompon yang relatif lunak,” lanjut Marketing Manager Elang Perkasa Tire tersebut. “Ban depan ini menanggung beban mesin, gardan (bila berpenggerak 4x4) dan distribusi berat kendaraan pada saat pengereman,” sahut Agung Prabowo dari FAST. “Karenanya ke empat ban tersebut perlu dirotasi letaknya,” tutur pria asal Solo ini.

Beda
Secara umum ban dibagi menjadi beberapa jenis, namun jenis yang paling sering ditemui dan dipakai para pecinta jip adalah tipe ban radial dan ban bias. Tipe radial merupakan jenis yang paling banyak dipergunakan, biasa dipakai pada jip dan SUV meliputi tipe HT, AT dan MT, bahkan ban off-road seperti Super Swamper ataupun Simex tergolong yang satu ini.

Sedangkan tipe bias memang tidak banyak dijumpai, namun ban yang basisnya dari ban untuk light truck ini tak jarang juga dipergunakan oleh para pecinta jip. Good Year Extragrip maupun Bridgestone Jeep Service masuk dalam golongan jenis ini. Cirinya ada pada pencantuman angka ply pada dinding ban.

Untuk merotasi, secara garis besar ban dibagi menjadi dua jenis ban yang berbeda. Ban dengan alur ganda mempunyai alur yang tidak berpengaruh, walaupun posisi ban dipindahkan dari sisi kanan ke sisis kiri ataupun sebaliknya. Sedangkan ban tipe lainnya merupakan tipe ban dengan alur searah. Tipe alur ini hanya bisa dipergunakan pada satu sisi saja, dan jika dipindahkan pada sisi lainnya maka alurnya akan terbalik.

Ban alur ganda memiliki pola rotasi yang memungkinkannya untuk dipasangkan pada roda tanpa harus melihat pola alur. Ban bisa dipasangkan di sebelah kiri maupun kanan tanpa harus mengganti arah ban. “Ban dengan pola demikian ini dirotasi dengan cara silang. Pada pola ban seperti ini ban serep bisa dilibatkan dalam setiap proses rotasi ban,” tutur Surya lebih lanjut. “Sedangkan pada alur searah rotasi ban hanya berlaku sejalur saja alias hanya dipindahkan dari posisi depan ke belakang ataupun sebaliknya, itupun hanya berlaku untuk satu sisi saja. Pada jenis ban seperti ini, ban serep baru diturunkan pada waktu penggantian unit ban saat sudah gundul,” terang pria ramah ini.

Ban beralur searah ini bisa saja diberlakukan seperti halnya ban dengan alur rotasi ganda. Syaratnya saat roda dirotasi silang, ban dilepas dari pelek dan dipasang sesuai dengan penujuk rotasinya. “Dengan demikian pola kembang yang berlaku pada ban alur ganda bisa diberlakukan pada jenis ban alur searah,” tutup Surya

Kapan?
Rotasi ban ini merupakan suatu hal yang dilakukan secara periodik. Akan tetapi tidak ada patokan pasti mengenai kapan rotasi tersebut berlaku. “Pada dasarnya semakin sering ban tersebut dirotasi, maka akan semakin baik. Penipisan ban akan lebih merata, sehingga umurnya pun jadi lebih panjang,” perinci Agung. “Untuk mudahnya, ada baiknya jika periode rotasi ban dilakukan bersamaan dengan waktu penggantian oli mesin. Simpel dan pasti tanggal jatuh temponya,” tutupnya.

Thanks to :
Elang Perdana Tire
Jl. Elang, desa Sukahati, Citeureup, Bogor 16810
Telp: (021) 8765105-08

Pasang Lampu Darurat, Bantu Kerja Buat Ruang Mesin


JIP - Mogok di malam yang gelap, atau sekadar ingin ngoprek mesin malam-malam? Tentu akan sulit tanpa penerangan yang memadai. Solusinya, ya tunggu sampai terang, atau gunakan lampu khusus. Beberapa produsen kendaraan sudah melengkapi mobilnya dengan lampu kerja darurat di ruang mesin, contohnya Opel Blazer.

Kita pun dapat meniru pabrikan Blazer. “Memasang lampu kerja itu sebenarnya simpel, namun sebaiknya tidak menambah kesemerawutan ruang mesin. Butuh penempatan yang bagus dan berestetika,” tutur F Nadjib AS dari D2 motorsport Depok.

“Dan lampu ini akan semakin memiliki nilai fungsi lebih apabila penempatannya bisa diatur sesuai kebutuhan,” lanjut pria berambut nyentrik ini. “Untuk itu tidak salah kiranya jika kita memiliki lampu kerja darurat yang mudah dipindah-pindah sesuai kebutuhan,” ungkapnya. “Tidak perlu harus mengeluarkan biaya mahal, namun bisa juga dengan memanfaatkan lampu yang tidak terpakai, seperti lampu bekas pelat nomor,” tutupnya.

Seperti apa langkahnya?

Yuk kita simak bersama.

Langkah
1.Buatkan braket lampu yang sesuai dengan kondisi ruang mesin kendaraan masing-masing.

2.Tentukan posisi untuk menempatkan penempatan lampu tersebut dan pastikan bahwa pada saat lampu tersebut terpasang tidak menghalangi gerak apa pun dalam ruang mesin.

3.Pasang kabel-kabel lampu dan saklar serta sambungkanlah dengan sumber tenaga yang berasal dari aki. Dipilihnya kabel dengan ukuran panjang memiliki tujuan supaya memudahkan saat lampu dipindah-pindahkan. Dan saat tidak dipergunakan kabel bisa digulung dengan rapi.

4.Pasangkan braket lampu yang sudah dirakit tersebut pada tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.

Alat bahan
1. Pelat alumunium 3 mm
2. Bor
3. Obeng (+)
4. Kabel
5. Lampu
6. Saklar
7. Baut kasar

Kaca Belakang Flip, Gaya dan Praktis


JIP - Beberapa tipe SUV memberikan fasilitas yang memudahkan kala mengambil barang dari kabin belakang, tanpa harus membuka pintu belakang. Cukup dengan membuka kaca belakangnya saja. Contohnya Nissan Terano King Road, Ford Escape, CR-V dan beberapa merek lain. “Walau sederhana, namun ternyata cukup praktis,” tutur Dodi Setiady dari Autotec Bandung.

“Sebenarnya sistem seperti ini pun bisa diaplikasikan pada kendaraan lain, seperti Jimny, Taft GT dan lain sebagainya. Dengan sedikit modifikasi, kita dapat menikmati,” sambungnya sembari menunjukkan satu contohnya pada Taft GTS pelanggannya.

“Untuk mengubahnya menjadi kaca flip, tiap-tiap kendaraan memiliki spesifikasi teknis yang beda. Namun pada dasarnya hampir semuanya bisa diubah,” sambung Dodi. “Contoh paling gampang adalah Daihatsu Taft atau Suzuki Jimny SJ410V beratap logam,” lanjutnya. “Bisa dilakukan, tanpa merombak lis bingkai kacanya sama sekali,” serunya.

Menurut Dodi, ukuran kaca bisa saja sesuai aslinya. Namun lebih baik jika lebih besar, hingga seluas karet kacanya. Tujuannya, agar bisa tampil lebih rapi. “Pesan kaca yang lebih tebal dibandingkan aslinya,” wanti bapak satu anak ini.

Supaya bisa berfungsi dengan baik, tak hanya kaca baru yang dibutuhkan untuk instalasi ini. Perlu peranti lain seperti engsel, sokbreker teleskopik pintu, pengunci pintu dan kawat pembuka kaca diperlukan supaya kaca flip bisa beroperasi.

Sepasang sok hidraulis pintu bertugas menyangga kaca saat terbuka. Untuk menahan kaca supaya bisa tertutup rapat, dibutuhkan sebuah pengunci kaca yang biasa menggunakan pengunci pintu belakang Toyota Kijang kapsul. Untuk membukanya, bisa menggunakan kawat pembuka tutup bensin yang juga diambil dari milik Kijang kapsul.

“Sedangkan untuk engsel, kita bisa menggunakan milik beberapa kendaraan, seperti Terano ataupun Escape, namun lebih pas kita bisa membuatnya secara custom,” tutup Dodi.

Sokbreker
Sepasang sokbreker comotan dari pintu belakang Jimny dipergunakan sebagai penahan kaca .

Tuas pembuka
Untuk membuka kaca belakang ini dibutuhkan tuas pembuka yang dioperasikan dari dalam kabin. Pengoperasiannya menggunakan kawat yang biasa dipergunakan untuk membuka tutup bensin Toyota Kijang kapsul stationwagon.

Estimasi biaya
1. Sokbreker pintu Jimny Katana atau CRV : Rp 150 ribuan hingga Rp 300ribuan
2. Pengunci pintu belakang Kijang : Rp 300 ribuan
3. Kabel pembuka tutup bensin Kijang : Rp 70 ribuan
4. Tuas pembuka : Rp 30 ribuan
5. Engsel : Rp.@ 50 ribuan s/d Rp 300 ribuan
6. Kaca : Rp. 700 s/d 1.5 jutaan

Thanks to :
Autotec 4x4
Jl. Cemara no 35 Bandung
No. (022)701.234.02
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...